Kamis, 08 Januari 2009

MAAF YANG TAK PERNAH TERMAAFKAN

“Kamu memang nggak pantas jadi ayahnya Razi, kamu ada atau nggak ada… sama saja!”

Kata-kata pamungkas itulah yang aku ucapkan ketika Eky (suamiku) lagi-lagi berbuat kesalahan yang sama. Entahlah kali itu aku benar-benar sudah jenuh dengan kesalahannya yang itu-itu saja. Dan seperti biasa, Eky pun pergi meninggalkan kami dan aku tak peduli.

Satu minggu... dua minggu... tiga minggu berlalu, tak juga kudengar kabar darinya. Hatiku gelisah, perasaanku gundah. Ini tidak seperti biasanya. Ini bukan kebiasaan Eky.

Penantianku pun mendapat jawaban. Orang tuaku memanggilku dan mengatakan bahwa mereka telah melakukan rapat dengan orangtua Eky, dan keputusannya adalah: kami harus berpisah.

Saat itu aku hanya bisa diam, diam, dan akhirnya menangis. Meskipun rumah tangga kami sering diwarnai dengan pertengkaran, tapi aku tidak mau berpisah dengan Eky. Paling tidak untuk saat itu.

Ketika ibuku menanyakan: mengapa? Aku cuma bisa menjawab: aku mau tunggu sampai Eky mati! Entah mengapa kata itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak bisa berpikir jernih, aku cuma mau mereka tahu bahwa cinta kami cukup kuat dan mampu menghalau rintangan yang ada.

Dua bulan setelah kejadian itu, aku mulai merasakan hal yang tidak biasa. Eky selalu hadir dalam mimpiku. Razi, yang saat itu baru berumur belum genap 2 tahun, mulai sering menanyakan ayahnya, padahal biasanya Razi tak pernah bertanya-tanya tentang Eky. Mungkin juga karena sekarang Razi mulai senang berceloteh, pikirku saat itu.


Mimpi-mimpi aneh tentang Eky terus menghampiriku. Tak hanya itu, aku pun mulai mengalami insomnia. Aku tak bisa memejamkan mata karena takut tidak dapat mendengar jika tiba-tiba Eky datang atau menelepon kami. Merasa mulai tidak nyaman dengan keadaan itu, aku lantas memberanikan diri mencari kabar Eky dengan bertanya kepada keluarganya, tapi hasilnya nihil. Mereka hanya mengatakan bahwa Eky ada di suatu tempat, mereka pun mengatakan bahwa Eky tidak akan kembali lagi ke Jakarta dan sudah merestui jika aku mau menggugat cerai dirinya. Aku sedih, aku kecewa dan murka. Aku marah pada keluarganya karena mereka tidak memikirkan perasaanku, atau paling tidak perasaan Razi. Kok, tega-teganya mereka berkata demikian.

Setelah bertukar pikiran dengan sahabatku, aku akhirnya memutuskan untk menyewa jasa pengacara demi mengurus perceraian kami. Aku mantap untuk meninggalkan Eky. Namun, meski sepertinya aku siap untuk berpisah dengan Eky, tak bisa kupungkiri bahwa aku masih mencintainya. Sangat.

Entah mengapa menjelang pembuatan draft gugatanku, aku merasakan seluruh sendi-sendi dalam tubuhku lemas sekali. Pikiranku kosong. Aku gamang menjalani keputusan ini. Dan, yang paling aneh, aku merasakan kangen yang teramat sangat pada Eky. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain menikmati kerinduan ini sendiri. Harus kuakui, aku kalah. Tak berdaya dengan keadaan dan tak mampu menolak kata “pisah”.

Malam itu, aku bertahajud dan memasrahkan apa yang akan terjadi pada Sang Khalik. Doaku malam itu: “Ya Allah, jika memang perpisahan adalah jalan yang terbaik bagi rumah tangga kami, aku mohon dimudahkan dan dilancarkan, tapi ya Rabb, sungguh aku takut akan perpisahan.”

Pagi itu, seperti biasa aku berangkat ke kantor, tapi kali ini rasanya tanpa nyawa. Langkahku gontai, mungkin karena sore nanti aku akan bertemu dengan pengacaraku.

Menjelang istirahat makan siang, satu pesan singkat masuk ke hp-ku. Kulihat segera. Dari Riris, adik iparku. Pesannya singkat: Nik, tolong hubungi aku segera, penting! Eky sudah nggak ada, Nik. Sudah pergi meninggalkan kita pagi tadi.

Lagi-lagi, aku hanya bisa diam, menangis, kemudian pingsan.

Mungkin inilah jawaban dari doaku malam tadi, mungkin juga inilah arti mimpi aneh tentangnya. “Jaga Razi ya,” ucap Eky dalam mimpiku semalam.

I miss him and only God knows how much.

Lagu “Lirih” yang dinyanyikan almarhum Chrisye benar-benar bisa menggambarkan apa yang yang kurasakan.

Kutahu semua tak mungkin kembali,
Kau telah pergi
Adakah kau mengerti, kasih
Rindu hati ini ingin memiliki lagi
Mungkinkah kau percaya, kasih?
Bahwa diri ini ingin memiliki lagi
…

Readmore »»

Rabu, 17 Desember 2008

Berbicara tentang belajar dari awal

setiap orang butuh belajar dalam hidupnya.
dari hal-hal kecil, seperti menggunakan sendok, atau sampai ke hal besar, seperti menyetir mobil.
tidak ada yang instan dalam hidup, tidak ada sesuatu yang terjadi dengan cepat.
semuanya pasti butuh proses, semuanya pasti butuh belajar.
yang namanya akhir pasti ada awalnya, yang namanya hasil pasti ada usahanya.
yup...itu semua tentang belajar sesuatu dari awal untuk dapet hasil yang terbaik.
dari yang bener-bener gak tau dan pertama kali nyoba, sampe yang bener-bener-bener-bener gak tau dan bener-bener baru pertama kali nyoba...

belajar dari awal, dari nol, lebih bagus! daripada yang dateng-dateng sok tau, seakan-akan tau padahal gak tau...
ada yang bilang "waktu kita datang ke tempat yang baru, kita harus datang dengan gelas yang kosong, untuk nanti di sana kita isi dengan banyak ilmu"
tapi tidak datang dengan kepala kosong, nanti jadi dongong, donk!



pertama belajar mikir, terus belajar nulis, setelah itu belajar ngomong, dan yang paling penting belajar menerima penolakan dan kritikan, bahkan sindiran...
setelah itu belajar untuk mempertahankan pendapat, belajar berdebat, dan belajar untuk menjadi pemenang saat yang kita utarakan diterima semua orang....
tapi, lagi-lagi semua balik lagi ke proses
dan proses itu butuh waktu, tenaga, dan usaha, dan doa....


"oke, setiap orang harus belajar untuk bisa kasih yang terbaik. tapi, belajar itu ada deadlinenya. belajar teruss? kapan bisanya?"

jadi..
"jangan berhenti belajar"

Readmore »»

Never give Up !!!!

Terhenti menatap wajahnya
Tak tahu berkata apa
Seribu harapan tiba-tiba seperti musnah
Hilang, terbang, tenggelam
Digantikan dengan kebingungan yang mutlak
Yang sering muncul menyeruak

Kenapa tak bisa berhenti memikirkannya
Padahal hidupnya hanya miliknya
Nafasnya adalah kekuasaannya
Dan langkahnya adalah kehendak hatinya
Seharusnya aku tak ikut campur
Tapi kenapa....



Ingin memeluknya dan berkata, jangan berhenti
Ingin membelainya dan berbisik, jangan menyerah sedetikpun
Ingin menggenggam tangannya dan berkata, aku di sini
Ingin ada di sisinya selalu dan berkata, wujudkan inginmu
Tapi kenapa, sepertinya dia sering menyerah...

Akupun melangkah keluar
Tak ingin terlalu mengganggu
Dia sedang menyusun puzzle hidupnya
Yang kadang akupun tak tahu

Readmore »»

Selasa, 16 Desember 2008

My Life is not a Fantasy

Ini realita, bukan khayalan. Ini kenyataan, bukan impian. Ini kehidupan manusia, bukan cerita dalam komik. Akhirnya aku bisa melihat semua dengan jelas. Mana yang nyata, mana yang gak. Ternyata selama ini aku hidup dalam khayalan, berharap semua cerita berjalan semanis cerita dongeng. Dan saat itu semua berakhir tidak sama dengan yang aku harapkan, aku menangis, marah. Padahal, itu semua terjadi karena aku yang tidak bertumpu pada kenyataan. Bahwa hidup gak selalu bisa seindah yang dibayangkan. Gak selalu manis seperti yang diharapkan. Aku dibangunkan oleh suara yang mengajakku kembali berdiri di atas dua kaki. Tak lagi melayang, tak lagi terbang. Karena, akhir sebuah cerita itu tak selamanya indah. Aku akan kembali ke dunia, dan melakukan semua seperti dalam dunia nyata. Tak lagi khayalan, tak lagi coretan tangan. Itu fiksi atau non fiksi. Itu nyata atau animasi. Semua orang harus kembali ke bumi...

Readmore »»

Inilah Saatnya

Ini tepat...
Saatnya melangkah maju, seperti yang sudah orang lain lakukan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan...
Walau aku sendiri tak bisa menghentikan waktu yang terus berputar, yang selalu menumbuhkan tunas baru, dan menerbangkan daun-daun yang kering dan layu.



Apakah ini bisa selesai, hingga kita bisa menemukan satu ujung di mana jawaban akan tersimpan rapi dan siap ditanam?

Readmore »»

Minggu, 14 September 2008

Things for SALE


Try to figure out : The Good Foods Come From The Best Mom's Cooked

RIDIS Catering and Cakes provides
:

- All Kind of Malays (Aceh) and Javanese Foods
- Cakes and Jajan Pasar
- Box Menus : for Events and Catering Set

NDIS's Clothing (Other Things):
- Shirt and Dress from Bandung with Love
- All Kind of Jilbab Acehs ( with Payet and Bordir)

For Further Infos, please feel free to contact us :

(+6221 9857 2362)- sms only

( gyuliasti@gmail.com )

We supply you The Best Quality and The Nicest Prices...!!!
For seeing The List of Menus and The Products, please send an email or sms to the numbers above... (and click 'READ MORE' for seeing some products)








So, what are You waiting for..?
contact us for your Events and Your Fashion!!

Readmore »»

Sabtu, 30 Agustus 2008

Surat Cinta Minimalis

Mengapa ?
Karena Dia Manusia Biasa ...
"Ugik Madyo"

Setiap kali ada teman yang mau
menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu
memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai
jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi
lah :P).

Tapi ada satu jawaban yang sangat
berkesan di hati saya. Hingga detik
ini saya masih ingat setiap detail
percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru
saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka
hanya berkenalan 2 bulan.

Lalu memutuskan menikah. Persiapan
pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang
akhwat, saya tidak akan heran.
Proses pernikahan seperti ini sudah
lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia
tipe wanita yang sangat berhati-hati
dalam memilih suami.



Trauma dikhianati lelaki membuat
dirinya sulit untuk membuka diri.
Ketika dia memberitahu akan menikah,
saya tidak menanggapi dengan serius.
Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi
saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya
menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia
menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar
bisa menemaninya selama proses
pernikahan.
Begitu banyak pertanyaan dikepala
saya. Asli.

Saya pengin tau, kenapa dia begitu
mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal
yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi
sayang, saya sedang sibuk sekali waktu
itu
(sok sibuk sih aslinya).

Saya tidak bisa membantunya
mempersiapkan pernikahan. Beberapa
kali dia telfon saya untuk meminta
pendapat tentang beberapa hal.
Beberapa kali saya telfon dia untuk
menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That's all. Kita
tenggelam dalam kesibukan masing-
masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2
pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.
Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol -hanya- berdua.

Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok
pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol
tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga kita ngobrol berdua. Ada banyak
hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga
ingin bercerita banyak pada saya.
Beberapa kali Mamanya mengetok pintu,
meminta kita tidur.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang
saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.

"Lampunya dimatiin aja, biar dikira
kita dah tidur."

"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon
kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan
ngobrol sambil berbisik-bisik.
Suatu hal yang sudah lama sekali tidak
kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-
impian kita. Wajah sumringahnya
terlihat jelas dalam keremangan kamar.
Memunculkan aura cinta yang menerangi
kamar saat itu. Hingga akhirnya
terlontar juga sebuah pertanyaan yang
selama ini saya pendam.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia
tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah
bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia
mengais lembaran kertas didalamnya.
Perlahan dia menutup laci kembali lalu
menyerahkan selembar amplop pada saya.
Saya menerima HP dari tangannya.
Amplop putih panjang
dengan kop surat perusahaan tempat
calon suaminya bekerja. Apaan sih.
Saya memandangnya tak mengerti. Eeh,
dianya malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik
keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.
Saya membaca satu kalimat diatas
dideretan paling atas.

"Busyet dah nih orang.." Saya
menggeleng-gelengka n kepala sambil
menahan senyum. Sementara dia cuma
ngikik melihat ekspresi saya.
Saya memulai membacanya. Dan sampai
saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.
Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak
saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya
Di tempat

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan.
Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan
dibuang atau dibakar, tapi saya mohon,
bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ...... menginginkan
anda ......untuk menjadi istri saya.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya
manusia biasa.
Saat ini saya punya pekerjaan.

Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya
akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang
pasti saya akan berusaha punya
penghasilan untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak..

Saya memang masih kontrak rumah. Dan
saya tidak tahu apakah nanti akan
ngontrak selamannya.
Yang pasti, saya akan selalu berusaha
agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang
punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda
untuk mendampingi saya. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan
kelebihan saya. Saya hanya manusia
biasa. Cinta saya juga biasa saja.

Oleh karena itu. Saya menginginkan
anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar
biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti
dapat bersama-sama sampai mati. Karena
saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat
tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik. Kenapa saya memilih anda ?
Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa
saya memilih anda.
Saya sudah sholat istiqaroh berkali-
kali, dan saya semakin mantap memilih
anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda
karena Allah. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama
saya, juga sunnah Rasulullah.
Saya tidak berani menjanjikan apa-apa,
saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu
sebelum memberi jawaban pada saya.
Saya kasih waktu minimal 1 minggu,
maksimal 1 bulan..
Semoga Allah ridho dengan jalan yang
kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb


Saya memandang surat itu lama. Berkali-
kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat 'lamaran' yang
begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa
janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya
menyebutnya :D.

Saya menatap sahabat disamping saya.
Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia."

"Karena dia manusia biasa." Dia
menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah
yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha
tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan
terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan
kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya
hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.
Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi
kalau suatu saat nanti kita jadi
gembel.

"Ssttt." Saya membekap mulutnya.
Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.
Sunyi. Suara jengkering terdengar
nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil
menutup mulut masing-masing.

"Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar
aku yang dimarahin Mama." Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa
terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.

"Gik..."

"Tidur. Dah malam." Saya menjawab
tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok
pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman
nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya
peroleh hari itu.
Ketika manusia sadar dengan
kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal
lain yang mengatur segala kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan.
Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada
seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju
pernikahan bukanlah sebagai beban tapi
sebuah 'proses usaha'. Betapa indah
bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta,
tahta dan 'nama'.

Embel-embel predikat diri yang selama
ini melekat ditanggalkan.

Ketika segala yang 'melekat' pada diri
bukanlah dijadikan pertimbangan yang
utama.
Pernikahan hanya dilandasi karena
Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah
yang membuat skenarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan
hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya
Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan.

Kita hanya bisa memohon keridhoan
Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah
jua yang akan menjaga ketenangan dan
kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta ?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu
proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu
tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu bisa bersemi dengan
indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno
jalaran garwo(sigaraning nyowo),
kalau diterjemahkan secara bebas.
Cinta tumbuh karena suami/istri
(belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua
manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta
yang luar biasa. Amin.

Readmore »»